Sabtu, 24 September 2016

CIKIDANG TANAH PUSAKA

CIKIDANG TANAH PUSAKA
Cikidang merupaka salahsatu kecamatan yang berada di kabupaten sukabumi dan dapat di tempuh 1/2 jam dari ibukota kabupaten sukabumi yaitu pelabuhanratu dan 5 jam dari ibukota indonesia jakarta.
kecamatan cikidang terdiri dari 12 desa yaitu Bumisari · Cicareuh · Cijambe · Cikarae Thoyyibah · Cikidang · Cikiray · Gunung Malang · Mekarnangka · Nangkakoneng · Pangkalan · Sampora · Tamansari
dan merupakan daerah berbukit bukit yang indah dan terdiri dari gunung gunung sungai sungai sawah sawah daerah perkebunan sawit karet pinuh dan bahkan teh juga tumbuh di tanah pusaka kami.
bnyak sekali tempat wisata atau tempat2 indah di tanah kami yang membuat kami bangga dengan tanah pusaka kami mulai dari wisata air citarik rafting , wisata berburu cikidang , cikidng resort lapangan golf yang ada di tengah2 kebun sawit dan masih bnyak sekali.
ini salahsatu photonya :)

Hasil gambar untuk cikidang sukabumi

Kamis, 14 April 2016

kisah ini di ambil dari






Cerita anak SMA: Hidup Bebas di Kost-an

Hidup bebas di kost-kost an itu emang bener banget dan nikmat banget. Tinggal dengan kakak itu ada enak nggak enaknya. Enaknya: tiap awal bulan nggak perlu cemas bakal ditagih uang kost, trus dikasih uang jajan pulak. Nggak enaknya, kita nggak sebebas saat nge-kost. 

Ya amppuuunn.. si Dewi sudah terlibat pergaulan bebas jaman masih sekolah???  Ya iyalah.. Enak tauuu..!
Dan inilah bukti betapa bebasnya hidupku di tempat kost:



  1. Pulang sekolah langsung tidur siang, nggak ada kewajiban ngapa-ngapain selain menyenangkan diri sendiri.
  2. Bisa seenaknya ngecengin cowok2 yang nge-kost di sebelah rumah tanpa takut ada yang mendelik
  3. Kalo malas nyuci, tumpuk aja tuh baju dibawah tempat tidur, bungkus kantong plastik biar nggk banyak nyamuk  tersenyum lebar  Nggak bakal ada yang ngomel.
  4. Kalo malas nyetrika, lipat aja tuh baju tarok dibawah bantal, tidurin semalaman. 
  5. Kalo malas masak, tungguin aja tukang bakso lewat di depan kost-kost an.
  6. Nggk perlu bangun pagi dan bantuin ngeberesin rumah
  7. Nggak perlu pergi belanja ke pasar yang bikin daku dipermalukan si jahe dan lengkuas
  8. Nggak perlu bantu nyapu rumah.
  9. Nggak perlu merasa nggak enak hati kalo nggak bantuin kakak masak.
  10. Nggak bakal diteriakin gegara menggoreng bawang pake minyak setengah kilo "lo mau nggoreng bawang apa nggoreng pisaaaaanggg...!!" dengan suara 7 oktaf, hingga tetangga 40 rumah kiri kanan depan belakang mendengar kebodohan lo dalam dunia masak memasak  frustasi
  11. Nggak akan kena marah bu guru karena suami kakak menghilangkan komik yang lo pinjam *dendam banget gw yang inih* 

Pasti pada bingung kan dengan yang nomer 11? Sini ku ceritain.

Di Bukittinggi di depan Jam Gadang, dulu ada tempat penyewaan buku-buku. Buku apa aja bisa disewa di situ. Kalo nggak punya duit buat beli, mending sewa aja kayak akyiu inih. 
Minjam

Nah, untuk sewa disitu, kita harus jadi anggota dulu. Ntar dikasih semacam kartu anggota gitu deh. Tiap kali nyewa buku, nomor keanggotaan kita yang dicatat sama si bapak yang punya buku. Di situ tertulis nomor anggota, nama, alamat sekolah dan nomor kelas. Kalo ada apa-apa, dia langsung mencari kita ke sekolah. Gawats kan, kalo macam-macam?

Si bapak juga punya catatan sendiri tentunya. Tiap kali kita minjam buku, do'i nyatat nomor anggota, judul2 buku yang dipinjam, tanggal minjam dan tanggal balikin serta pastinya nominal yang harus kita bayar. Kalo telat balikin ya, harus lapor dan nambahin bayaran dendanya. Jadi kalo buku itu blom selesai dibaca, biasanya aku balikin dulu. Beberapa hari kemudian baru aku pinjam lagi, biar nggak kena denda gitu...hehe.. Jenius kan? bangga diri

Nah, pada suatu hari, abang iparku itu minta tolong padaku untuk meminjam sebuah komik, pake kartu aku tentu saja. Awalnya aku udah nggak yakin. Soalnya kredibilitas dia sebagai peminjam buku di tempat bapak tua itu sudah tercoreng karena sering kena denda. Dan kartu keanggotaan dia udah dibumihanguskan sama si bapak. 

Tapi karena aku ini lebih banyak "nggak enak hati" nya, aku sanggupin pasang badan untuk dia sambil ngancam: "asal jangan telat aja balikinnya. Awas aja kalo telat!" 

Dan selama buku itu ditangan dia, selama itulah tidurku tak nyenyak makanku tak enak. Yang aku pikirin hanya buku ituuuuu..aja! Coz sama dia, bukunya dibawa kemana-mana. Ke tempat kerja dia, ke tempat nongkrong, ke pos ronda, ke toilet dan ke tempat-tempat aneh lainnya. Kekhawatirankupun terjadi.

Pada waktu yang telah ditetapkan, akupun meminta buku itu pada si abang ipar. Dia bilang, "besok aja, abang blom selesai baca. Nanti abang bayar denda deh!"

Beberapa hari berturut2, jawabannya selalu begitu. Hingga tiba batas toleransi keterlambatan yaitu 3 hari, aku minta buku itu dengan paksa. Dan si abang mengaku. Seperti yang sudah kalian duga: Buku itu hilang, Sodara-sodara!

Bisa lo bayangkan kemurkaan gw! Nama baik gw dipertaruhkan di sini! Si Bapak tua bakal muntab! Dan kesalahanku adalah, aku tak datang menemuinya untuk minta maaf, mengakui keteledoranku itu, lalu membayar denda. Harusnya selesai urusan sampai di situ. Tapi aku tak punya nyali untuk menemuinya.

Maka tibalah hari itu, di suatu siang yang terik, Ibu Wali kelas memanggilku ke kantor BP. Di tangannya ada sebuah kartu pos bertuliskan tulisan tegak bersambung menyambung menjadi satu. Melihat penampakan tulisan itu, perasaanku langsung tak enak. Pasti yang punya tulisan seperti itu anak SMA jaman Belanda, dan aku sudah bisa menduga siapa orangnya....

"Baca ini," katanya sambil menyodorkan kartu post itu.

Aku membaca dengan susah payah. Tapi intinya dapat aku mengerti, bahwa kartu post ini ditulis dan dikirim oleh Pak Tua pemilik persewaan buku. Beliau mengisahkan tentang bukunya yang hilang tak tentu rimbanya setelah berpindah ke tanganku, bahwa buku yang aku pinjam tidak dikembalikan pada waktunya dan beliau meminta tolong pada ibu Guru agar berkenan menasehati dan meminta agar aku menyelesaikan segala urusan penting ini dengan Pak Tua, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Aku jelaskan kronologi kejadiannya, lalu aku memandang ibu guru dengan rasa sedih, malu dan menyesal.  Berharap sangat agar beliau percaya dengan ceritaku. Ibu guru memandangku penuh selidik, bagai ingin menelanjangi diriku*tsahh.. Seolah yang aku katakan adalah bohong. Padahal aku ini orang yang jujur, berani dan setia...

Ternyata, hilangnya buku berdampak panjang; tidak hanya di tempat persewaan buku itu saja nama baikku tercoreng, di sekolah inipun kelihatannya nama baikku sebagai siswa yang patuh dan suka bermusyawarah, rela menolong dan tabah, sudah musnah gegara komik.

Sejak saat itu, aku tak pernah menyewa buku lagi di tempat Pak Tua. Meski si abang ipar sudah membayar semua denda buku, aku tetap tak berani lagi ke sana hingga aku menamatkan sekolah. Aku bahkan tak berani jajan bakso di tempat langganan yang terletak bersebelahan dengan kios Pak Tua. Aku bahkan melewati emperan tokonya dengan menutup wajahku pake tas. Aku malu. 

Itulah awal mula aku menjadi seorang pemaluuuu.................. wajah tanpa emosi






Jumat, 08 April 2016

CONTOH MAKALAH YANG BAIK DAN BENAR dari...

KUMPULAN PUISI INDAH dari

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

ads
Berikut Kumpulan Puisi tema Chairil Anwar. Puisi merupakan curahan hati dan pikiran dari penciptanya. Setelah membaca puisi, diharapkan pengunjung mendapat inspirasi untuk hidup yang lebih baik.
Chairil Anwar adalah penyair terkenal dan terkemuka Indonesia. Ia telah berhasil menciptakan karya-karya terbaiknya dengan menulis 96 syair serta 70 buah puisi. Chairil Anwar juga dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" yakni yang terinspirasi dari karyanya yang berjudul Aku. SEdangkan untuk karya terkenal lainnya berjudul Krawang Bekasi, Deru Campur Debu, Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus, dan lainnya.

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Burung Pipit - Kahlil Gibran
Sajak Putih - Chairil Anwar
Karawang Bekasi - Chairil Anwar
Senja Di Pelabuhan Kecil - Chairil Anwar
Rumahku - Chairil Anwar
Aku Berada Kembali - Chairil Anwar
Dengan Mirat - Chairil Anwar
Maju - Chairil Anwar
Aku Berkaca - Chairil Anwar
Mirat Muda, Chairil Muda - Chairil Anwar
Derai-derai Cemara - Chairil Anwar
Derai Derai Cemara - Chairil Anwar
Yang Terampas Dan Yang Putus - Chairil Anwar
Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar
Cintaku Jauh Di Pulau - Chairil Anwar
Senja Di Pelabuhan Kecil - Chairil Anwar
Sajak Putih - Chairil Anwar
Doa - Chairil Anwar
Hampa - Chairil Anwar
Penerimaan - Chairil Anwar
Aku - Chairil Anwar
Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar
Diponegoro - Chairil Anwar
Krawang - Bekasi - Chairil Anwar
Malam - Chairil Anwar
Prajurit Jaga Malam - Chairil Anwar
- See more at: http://www.kumpulan-puisi.com/chairil-anwar-poetry.php#sthash.GJ0XNBrn.dpufhttp://www.kumpulan-puisi.com/chairil-anwar-poetry.php

PUISI CHAIRUL ANWAR di kutif dari

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap

By  On Kamis, Desember 19th, 2013 Categories : Puisi
Advertisement
Click Here
Kumpulan Puisi Chairil Anwar – Nama Chairil Anwar abadi bersama puisi-puisi nya yang tak lekang oleh waktu hingga saat ini. Beliau sosok penyair angkatan 45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis.  (*wikipedia)
"Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap"
Selama hidupnya beliau berhasil membuat beberapa karya tulis berikut diantara karya nya tersebut:
  • Deru Campur Debu (1949)
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
  • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  • Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949″, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
  • Derai-derai Cemara (1998)
  • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari Puisi Chairil anwar Tentang CintaPuisi Chairil Anwar Ibu,  pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.
Kumpulan Puisi Chairil Anwar.
 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
 
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
 
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
 
Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Cerita Buat Dien Tamaela
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!
Hampa
Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
 
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
 
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
 
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
 
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
 
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
 
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
 
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
 
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
 
RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampakKulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalanKemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke manaRumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranakRasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu27 april 1943 
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
 
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut sendaSepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944