kisah ini di ambil dari
Cerita anak SMA: Hidup Bebas di Kost-an
Hidup bebas di kost-kost an itu emang bener banget dan nikmat banget. Tinggal dengan kakak itu ada enak nggak enaknya. Enaknya: tiap awal bulan nggak perlu cemas bakal ditagih uang kost, trus dikasih uang jajan pulak. Nggak enaknya, kita nggak sebebas saat nge-kost.
Ya amppuuunn.. si Dewi sudah terlibat pergaulan bebas jaman masih sekolah??? Ya iyalah.. Enak tauuu..!
Dan inilah bukti betapa bebasnya hidupku di tempat kost:
- Pulang sekolah langsung tidur siang, nggak ada kewajiban ngapa-ngapain selain menyenangkan diri sendiri.
- Bisa seenaknya ngecengin cowok2 yang nge-kost di sebelah rumah tanpa takut ada yang mendelik
- Kalo malas nyuci, tumpuk aja tuh baju dibawah tempat tidur, bungkus kantong plastik biar nggk banyak nyamuk
Nggak bakal ada yang ngomel.
- Kalo malas nyetrika, lipat aja tuh baju tarok dibawah bantal, tidurin semalaman.
- Kalo malas masak, tungguin aja tukang bakso lewat di depan kost-kost an.
- Nggk perlu bangun pagi dan bantuin ngeberesin rumah
- Nggak perlu pergi belanja ke pasar yang bikin daku dipermalukan si jahe dan lengkuas
- Nggak perlu bantu nyapu rumah.
- Nggak perlu merasa nggak enak hati kalo nggak bantuin kakak masak.
- Nggak bakal diteriakin gegara menggoreng bawang pake minyak setengah kilo "lo mau nggoreng bawang apa nggoreng pisaaaaanggg...!!" dengan suara 7 oktaf, hingga tetangga 40 rumah kiri kanan depan belakang mendengar kebodohan lo dalam dunia masak memasak
- Nggak akan kena marah bu guru karena suami kakak menghilangkan komik yang lo pinjam *dendam banget gw yang inih*
Pasti pada bingung kan dengan yang nomer 11? Sini ku ceritain.
Di Bukittinggi di depan Jam Gadang, dulu ada tempat penyewaan buku-buku. Buku apa aja bisa disewa di situ. Kalo nggak punya duit buat beli, mending sewa aja kayak akyiu inih.
![]() |
| Minjam |
Nah, untuk sewa disitu, kita harus jadi anggota dulu. Ntar dikasih semacam kartu anggota gitu deh. Tiap kali nyewa buku, nomor keanggotaan kita yang dicatat sama si bapak yang punya buku. Di situ tertulis nomor anggota, nama, alamat sekolah dan nomor kelas. Kalo ada apa-apa, dia langsung mencari kita ke sekolah. Gawats kan, kalo macam-macam?
Si bapak juga punya catatan sendiri tentunya. Tiap kali kita minjam buku, do'i nyatat nomor anggota, judul2 buku yang dipinjam, tanggal minjam dan tanggal balikin serta pastinya nominal yang harus kita bayar. Kalo telat balikin ya, harus lapor dan nambahin bayaran dendanya. Jadi kalo buku itu blom selesai dibaca, biasanya aku balikin dulu. Beberapa hari kemudian baru aku pinjam lagi, biar nggak kena denda gitu...hehe.. Jenius kan? 
Nah, pada suatu hari, abang iparku itu minta tolong padaku untuk meminjam sebuah komik, pake kartu aku tentu saja. Awalnya aku udah nggak yakin. Soalnya kredibilitas dia sebagai peminjam buku di tempat bapak tua itu sudah tercoreng karena sering kena denda. Dan kartu keanggotaan dia udah dibumihanguskan sama si bapak.
Tapi karena aku ini lebih banyak "nggak enak hati" nya, aku sanggupin pasang badan untuk dia sambil ngancam: "asal jangan telat aja balikinnya. Awas aja kalo telat!"
Dan selama buku itu ditangan dia, selama itulah tidurku tak nyenyak makanku tak enak. Yang aku pikirin hanya buku ituuuuu..aja! Coz sama dia, bukunya dibawa kemana-mana. Ke tempat kerja dia, ke tempat nongkrong, ke pos ronda, ke toilet dan ke tempat-tempat aneh lainnya. Kekhawatirankupun terjadi.
Pada waktu yang telah ditetapkan, akupun meminta buku itu pada si abang ipar. Dia bilang, "besok aja, abang blom selesai baca. Nanti abang bayar denda deh!"
Beberapa hari berturut2, jawabannya selalu begitu. Hingga tiba batas toleransi keterlambatan yaitu 3 hari, aku minta buku itu dengan paksa. Dan si abang mengaku. Seperti yang sudah kalian duga: Buku itu hilang, Sodara-sodara!
Bisa lo bayangkan kemurkaan gw! Nama baik gw dipertaruhkan di sini! Si Bapak tua bakal muntab! Dan kesalahanku adalah, aku tak datang menemuinya untuk minta maaf, mengakui keteledoranku itu, lalu membayar denda. Harusnya selesai urusan sampai di situ. Tapi aku tak punya nyali untuk menemuinya.
Maka tibalah hari itu, di suatu siang yang terik, Ibu Wali kelas memanggilku ke kantor BP. Di tangannya ada sebuah kartu pos bertuliskan tulisan tegak bersambung menyambung menjadi satu. Melihat penampakan tulisan itu, perasaanku langsung tak enak. Pasti yang punya tulisan seperti itu anak SMA jaman Belanda, dan aku sudah bisa menduga siapa orangnya....
"Baca ini," katanya sambil menyodorkan kartu post itu.
Aku membaca dengan susah payah. Tapi intinya dapat aku mengerti, bahwa kartu post ini ditulis dan dikirim oleh Pak Tua pemilik persewaan buku. Beliau mengisahkan tentang bukunya yang hilang tak tentu rimbanya setelah berpindah ke tanganku, bahwa buku yang aku pinjam tidak dikembalikan pada waktunya dan beliau meminta tolong pada ibu Guru agar berkenan menasehati dan meminta agar aku menyelesaikan segala urusan penting ini dengan Pak Tua, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Aku jelaskan kronologi kejadiannya, lalu aku memandang ibu guru dengan rasa sedih, malu dan menyesal. Berharap sangat agar beliau percaya dengan ceritaku. Ibu guru memandangku penuh selidik, bagai ingin menelanjangi diriku*tsahh.. Seolah yang aku katakan adalah bohong. Padahal aku ini orang yang jujur, berani dan setia...
Ternyata, hilangnya buku berdampak panjang; tidak hanya di tempat persewaan buku itu saja nama baikku tercoreng, di sekolah inipun kelihatannya nama baikku sebagai siswa yang patuh dan suka bermusyawarah, rela menolong dan tabah, sudah musnah gegara komik.
Sejak saat itu, aku tak pernah menyewa buku lagi di tempat Pak Tua. Meski si abang ipar sudah membayar semua denda buku, aku tetap tak berani lagi ke sana hingga aku menamatkan sekolah. Aku bahkan tak berani jajan bakso di tempat langganan yang terletak bersebelahan dengan kios Pak Tua. Aku bahkan melewati emperan tokonya dengan menutup wajahku pake tas. Aku malu.
Itulah awal mula aku menjadi seorang pemaluuuu.................. 











Tidak ada komentar:
Posting Komentar