Musibah
KMP Tampomas II
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
KMP
Tampomas II
adalah kapal penumpang milik Pelni
(Pelayaran Nasional Indonesia) yang mengalami kebakaran dan tenggelam
di sekitar Kepulauan
Masalembo
di (114°25′60″BT — 5°30′0″LS) Laut
Jawa
(termasuk ke dalam wilayah administratif Provinsi Jawa
Timur).
KMP merupakan singkatan dari Kapal Motor Penumpang. Kapal yang
dinakhodai oleh Kapten Abdul
Rivai
kelahiran Bengkulu 23 Agustus 1936 ini, sedang menempuh perjalanan
dari Jakarta
menuju Sulawesi
dan karam pada tanggal 27
Januari
1981.
Musibah ini menyebabkan tewasnya ratusan penumpang kapal tersebut.
Daftar
isi
Selayang
pandang
KMP
Tampomas II yang semula bernama MV Great Emerald diproduksi tahun
1956
oleh Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, tergolong
jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer
berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati
2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage). Dimodifikasi ulang (Retrofit)
tahun 1971 di Taiwan.
Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dengan kecepatan
maksimum 19.5 knot.
Memiliki lebar 22 meter
dan Panjang 125,6 meter.
Kapal
ini dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari
Pihak Jepang,
Comodo Marine Co. SA seharga US$ 8.3 Juta. Kemudian PT. PELNI
(Pelayaran Nasional Indonesia) membeli secara mengangsur selama
sepuluh tahun kepada PT. PANN. Berbagai pihak telah heran akan
mahalnya harga kapal ini, mengingat pernah ditawarkan ke Perusahaan
Pelayaran Swasta lain hanya seharga US$ 3.6 Juta. Berbagai pihak,
termasuk Jepang sendiri telah menyatakan kapal ini afkir karena telah
berumur 25 tahun. Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung
dipacu untuk melayani jalur Jakarta-Padang
dan Jakarta-Ujungpandang
yang memang padat. Setiap selesai pelayaran, kapal ini hanya diberi
waktu istirahat selama 4 jam dan harus siap untuk melayani pelayaran
selanjutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan
perlengkapan kapal pun hanya dapat dilaksanakan sekadarnya saja,
padahal mengingat usianya yang sudah cukup berumur, seyogyanya kapal
ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat.
Namun
di balik semua kejanggalan itu, Pelayaran perdana Tampomas II
dilakukan pada 2 Juni sampai dengan 13 Juni 1980. Rute yang ditempuh
ialah Padang-Jakarta-Ujungpandang. Pelayaran tersebut mengajak serta
sejumlah wartawan dan anggota DPR. Pada pelayaran ini pun, yang
diikuti oleh beberapa anggota DPR, mereka sempat menyaksikan sendiri
dan turut pula mempertanyakan perihal mesin yang sering mengalami
kerusakan selama perjalanan. Anggota DPR dari Fraksi PDIP,
Ahmad
Soebagyo
menyebutkan berbagai kejanggalan selama perjalanan diantaranya kapal
yang berputar-putar dalam radius yang sama dikarenakan rusaknya salah
satu Knop Otomatis pengatur mesin kapal, dan dibatalkannya Acara Show
Kapal karena matinya aliran listrik dalam waktu yang lama. Menurut
seorang wartawan, enam kali mesin kapal rusak selama dalam
perjalanan.
Musibah
Kapal
Tampomas II
yang terbakar.
KMP
Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjung
Priok
hari Sabtu, 24
Januari
1981
Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang, perjalanan seyogyanya
memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari
Senin, 26
Januari
1981
Pukul 10.00 WIB akan tiba. Seorang pemandu kapal menyebutkan bahwa
salah satu mesin kapal telah mengalami kerusakan sebelum bertolak.
Kapal
membawa Puluhan Kendaraan Bermotor termasuk Mesin Giling SAKAI,
Skuter Vespa, dll yang diletakkan di Cardeck. Berdasarkan Data
Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 Mobil dan 200 Motor di atas
kapal. Dalam Pelayaran tersebut, sebanyak 1055 Penumpang Terdaftar
dan 82 Awak Kapal berada di atas kapal. Estimasi Total Penumpang
adalah 1442 termasuk penumpang gelap.
24
Januari
malam, tidak terjadi apa-apa. Yang terlihat hanyalah awan senja yang
memukau dan pemandangan Laut Jawa yang datar. Namun diakui ombak
Januari
memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain, ombak setinggi
7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knot sangat wajar terjadi. Di
dalam kapal sendiri direncanakan sebuah Acara Show di Bar Kapal
dengan Penyanyi Ida
Farida
dari Band Kapal. Namun berbagai tanda keanehan terjadi, diantaranya
dibawakannya Lagu Salam Perpisahan oleh seorang yang bernama Ferry,
yang kemudian tidak diketahui keberadaannya.
25
Januari
pagi, keadaan berlangsung seperti biasa. Namun, 25 Januari Malam,
sekitar Pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat,
beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan puntung
rokok yang berasal dari ventilasi menyebabkan percikan api. Para kru
melihat dan mencoba memadamkannya menggunakan tabung pemadam
portabel, namun gagal. Api semakin menjalar ke kompartemen mesin
karena pintu dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati,
dan generator darurat pun gagal (Failure) dan usaha pemadaman pun
dihentikan karena sudah tidak memungkinkan. Ditambah dengan bahan
bakar yang ternyata masih terdapat disetiap kendaraan, menyebabkan
api merambat dan membakar semua dek dengan cepat. 30 menit setelah
api muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung
menaiki sekoci. Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1
pintu menuju dek atas. Begitu berada di dek atas, para ABK dan Mualim
Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi sekoci. Beberapa ABK
malah dengan egois menurunkan sekoci bagi dirinya sendiri. Dari 6
sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian
penumpang nekat terjun bebas ke Laut, dan sebagian lagi menunggu
dengan panik pertolongan selanjutnya.
KMP
Tampomas II yang tenggelam.
Kapal
lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe dengan
nakhoda kapal Kapten Agus K. Sumirat, Sumirat merupakan teman satu
angkatan Abdul Rivai di Akademi Ilmu Pelayaran lulusan tahun 1959. KM
Sangihe sendiri dalam perjalanan dari Pare-pare menuju Surabaya untuk
melakukan perbaikan kerusakan mesinnya. Mualim I KM Sangihe, J.
Bilalu yang pertama melihat kepulan asap dari arah barat dan mengira
kepulan asap berasal dari sumur minyak lepas pantai Pertamina.
Markonis KM Sangihe Abubakar mengirimkan pesan morse SOS
pada pukul 08.15. KM Ilmamui menyusul untuk melakukan pertolongan dan
tiba pada pukul 21.00 disusul empat jam kemudian kapal tangker Istana
VI dan masih berdatangan kapal lain yaitu kapal Adhiguna Karunia dan
KM Sengata milik PT Porodisa Lines.
Tanggal
26
Januari
pagi, Laut
Jawa
dilanda hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar ke ruang mesin di
mana terdapat bahan bakar yang tidak terisolasi. Akibatnya pagi hari
tanggal 27
Januari,
terjadi ledakan di ruang mesin dan membuatnya penuh oleh air laut.
Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, yang
mengakibatkan Kapal miring 45 derajat.
Akhirnya
pada siang hari tanggal 27
Januari
1981
Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah
percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa
untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.
Kapten
Abdul Rivai termasuk yang terakhir meninggalkan kapal, sebelumnya ia
sempat mengirimkan pesan kepada nakhoda KM Sangihe "Tolong
kirimi saya air dan makanan, karena saya akan tetap berada di kapal
sampai detik terakhir". Pesan tersebut disampaikan melalui awak
kapal Tampomas II yang berhasil menyeberang ke KM Sangihe yang
bernama Bakaila. Tetapi permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh
Agus K. Sumirat nakhoda KM Sangihe.
Korban
Seluruh
penumpang yang terdaftar berjumlah 1054 orang, ditambah dengan 82
awak kapal. Namun diperkirakan keseluruhan penumpang berjumlah 1442
orang, termasuk sejumlah penumpang gelap. Sebuah sumber menyebutkan
angka taksiran jumlah penumpang gelap sekitar 300 orang. Tim
penyelamat memperkirakan 431 orang tewas (143 mayat ditemukan dan 288
orang hilang bersama kapal), sementara 753 orang berhasil
diselamatkan. Sumber lain menyebutkan angka korban yang jauh lebih
besar, hingga 666 orang tewas. Dari catatan kapal tangker Istana VI
berhasil menyelamatkan 144 penumpang Tampomas dan 4 jenazah,
sementara KM Sengata menyelamatkan 169 orang dan 2 jenazah, kapal
lain KM Sonne tercatat menemukan 29 Mayat termasuk mayat Nakhoda KMP
Tampomas II Kapten Abdul Rivai. Odang
Kusdinar
Markonis KM Tampomas II selamat, ia ditemukan bersama 62 penumpang
dalam sekoci di dekat Pulau Duang-Duang Besar, 240 km sebelah
timur tempat Tampomas tenggelam pada hari Jumat 30 Januari 1981 pukul
05.00
Hasil
penyelidikan
Menteri
Perhubungan Roesmin
Nurjadin
dalam penjelasannya pada pers di kantor Departemen Perhubungan,
mengatakan tidak terjadi hal yang abnormal di ruang mesin. Kelainan
terjadi pada ruang geladak kendaraan, khususnya pada kendaraan roda
dua yang terletak di sebelah belakang. Karena guncangan gelombang
laut yang cukup kuat memungkinkan untuk timbul percikan api dan
menyebar. Masinis III Tampomas II Wishardi
Hamzah
mengatakan bahwa Tampomas II tidak memiliki sistem pendeteksi asap.
Penyelidikan
yang dipimpin oleh Jaksa Bob
Rusli Efendi Nasution
sebagai kepala Tim Perkara tidak memberikan hasil yang berarti, sebab
semua kesalahan ditudingkan kepada para awak kapal. Ada kesan bahwa
kasus ini dengan sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah saat itu,
meskipun banyak suara dari parlemen yang menuntut pengusutan yang
lebih serius.
Pada
budaya populer
-
Iwan Fals menciptakan lagu mengenai musibah KMP Tampomas II yang berjudul Celoteh Camar Tolol dan Cemar[1]
-
Ebiet G. Ade menciptakan lagu tentang Tampomas II yang berjudul Sebuah Tragedi 1981, terdapat pada album Langkah Berikutnya yang diluncurkan pada 1982[1]
-
Doel Sumbang menciptakan lagu tentang tragedi Tampomas II yang berjudul Bencana-Bencana, terdapat pada album volume 5 Aku, Gembrot dan Hasyim Munaif yang diluncurkan pada 1984 oleh Sokha Records
Catatan
kaki
Pranala
luar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar